Rabu, 04 April 2018

Dolar AS Mencoba Menguat, Tapi Prospek Masih Suram



Foto: Pexel

DOLAR Amerika Serikat (AS) belum stabil, masih rawan tersungkur lagi terkena sentimen negatif perang dagang AS-China yang masih berlanjut!

Dolar AS naik pada akhir perdagangan Rabu (4/4/2018) dini hari. Ini dipicu indeks utama Wall Street menguat, membantu dolar AS stabil setelah penurunan tajam pada hari sebelumnya.

Namun prospek dolar AS ke depan diprediksi masih suram, sebagai dampak ketegangan perdagangan global. Kurs dolar AS telah merosot 2% sejak awal tahun 2018 hingga saat ini. 

China pada hari Minggu mengumumkan tarif 3 miliar dolar AS dalam impor makanan AS dan barang-barang lainnya sebagai tanggapan terhadap tarif AS atas impor aluminium dan baja, sebuah pertempuran yang dikuatirkan para investor menjadi awal dari perang dagang yang lebih luas.


Pemerintahan Trump diperkirakan mengumumkan minggu ini tarif sebesar 50 miliar dolar AS hingga 60 miliar dolar AS terhadap impor China. Pada Selasa (3/4/2018), duta besar China untuk AS mengatakan, Beijing akan mengambil langkah-langkah balasan dalam skala dan proporsi yang sama jika Washington memberlakukan tarif lebih lanjut.

Dalam perdagangan Selasa sore kemarin, dolar naik 0,14% terhadap sekeranjang mata uang utama dunia menjadi 90,18.

Analis pasar mata uang mengatakan, investor juga fokus pada data payrolls AS dan komentar oleh Ketua The Fed, Jerome Powell pada akhir pekan, yang akan membantu menentukan arah jangka pendek dari dolar AS.

Sebelumnya, jelang Selasa, Presiden The Fed San Francisco, John Williams ditunjuk sebagai kepala The Fed New York, sebuah langkah yang diharapkan untuk memperkuat kebijakan kenaikan suku bunga bank sentral AS.

Terhadap yen Jepang, yang cenderung menguntungkan pada saat ketidakpastian ekonomi, dolar AS kehilangan tiga hari kerugian untuk diperdagangkan 0,69% lebih tinggi pada 106,60 yen. Para trader/investor masih meyakini yen yang lebih kuat dan dolar AS yang melemah secara luas jika ketegangan perdagangan AS-China meningkat.

Para analis juga masih memprediksi dolar AS rawan jatuh lagi, meski sempat menguat pada jelang penutupan perdagangan Selasa (3/4/2018) waktu setempat atau Rabu (4/4/2014) dini hari WIB. Dolar AS juga sempat menguat versus mata uang safe haven lain, franc Swiss, naik 0,35% menjadi 0,9585 franc.



Sementara itu, Euro jatuh setelah survei menunjukkan data manufaktur zona Eropa tersendat untuk bulan ketiga di bulan Maret, meskipun produksi tetap kuat. Euro berakhir turun 0,25%  pada 1,2269 dolar AS.

Senior Analyst Vibiz Research Center, Asido Situmorang, seperti dilansir Vibiznews, Rabu (4/4/2018) memperkirakan indeks dolar AS berpotensi lemah karena para investor waspada dan mencermati perkembangan perang dagang lanjutan AS-Tiongkok. (sb-18)

Sumber: Wibiznews.com




Share This
Previous Post
Next Post

Professional trader and journalist. He's a simple man.

0 komentar: