Sabtu, 29 Agustus 2020

Konten Kreator Bisa Berperan Mendukung Pemerintah Wujudkan Ketahanan Energi

Foto: Dokumen Kementerian ESDM

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif (kiri atas) saat menjadi pembicara dalam pertemuan virtual ‘’International Energy Agency (IEA) Clean Energy Transitions Summit’’ pada Kamis, 9 Juli 2020.

SADARKAH kita seluruh warga Indonesia, setiap hari kita hidup berkubang energi? Dimulai saat kita masih tidur nyenyak, sementara  kipas angin atau air conditioner (AC) terus menyala menyejukkan ruangan. Saat kita bangun tidur dan membuka mata mendapati ruangan kamar dalam kondisi gelap, lalu kita menyalakan lampu. Kemudian membuka handphone (HP), ternyata tidak bisa menyala, rupanya baterainya habis, maka kita segera mengisi daya baterai dengan energi listrik. 

Saat kita asyik mengecek pesan-pesan yang masuk melalui WhatsApp (WA),  tiba-tiba terdengar “orkestra musik keroncong” dari dalam perut. Segera kita lari ke dapur menyiapkan sarapan. Mengambil sayur dan lauk-pauk yang semalam disimpan di kulkas,  lalu dipanaskan dengan kompor gas atau microwave oven. Dilanjutkan memasak air untuk menyeduh teh hangat.  Setelah melakukan sederet ritual yang semuanya mengonsumsi energi itu, barulah kita bisa menikmati menu sarapan yang lezat di meja makan. 

Bagi pekerja, aktivitas berikutnya adalah persiapan mau berangkat kerja. Masuk ke kamar mandi, saat membuka kran, ternyata airnya hanya mengalir kecil. Rupanya tandon air di atas rumah sudah habis, segera menekan tombol “on” untuk menyalakan pompa air.  Usai mandi, lalu pilih-pilih baju di lemari, eh baju yang dipilih ternyata masih kusut, segera dibawa ke ruang seterika pakaian dan agak tergesa-gesa menyeterika baju itu hingga rapi. 

Kini kita sudah berpakaian rapi, tinggal berdandan di depan cermin. Mau menyisir rambut, ternyata masih basah. Baru ingat tadi keramas, maka segera mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut. Setelah lumayan kering, barulah menyisir ramput hingga rapi. 

Akhirnya semua persiapan beres. Lalu melangkah penuh semangat ke garasi, masuk ke mobil. Menyalakan mesin mobil dan keluar dari garasi, eh terlihat tanda bahan bakar minyak (BBM) sudah menyentuh huruf “E” atau “tanda merah”, maka harus mampir ke SPBU dulu untuk mengisi Pertamax sebelum ke kantor. 

Sampai di kantor, saat membuka WA sudah ada sederet tugas dari Bos yang harus segera dikerjakan. Maka, segeralah menyalakan komputer. Juga membuka laptop mengambil beberapa data untuk melengkapi pekerjaan. 

Sambil mengetik di komputer, saat melirik jam tangan menunjukkan pukul 08.30 WIB.  Tadi waktu bangun tidur pukul 05.30 WIB. Jadi baru tiga jam berjalan, tanpa sadar kita sudah mengonsumsi energi begitu banyak. Mulai dari listrik, gas, dan BBM. Padahal sehari ada 24 jam, lalu berapa banyak energi yang kita konsumsi setiap hari?  Padahal semua orang juga mengonsumsi energi, dan jumlah penduduk Indonesia setiap hari terus bertambah. 

Dilansir dari situs Badan Pusat Statistik (BPS), data terakhir jumlah penduduk Indonesia tercatat pada 2015 sebesar 238.518.000 jiwa. Diproyeksikan lima tahun ke depan atau 2020 saat ini, jumlah penduduk Indonesia telah mencapai sekitar 271 juta jiwa. 

Pantas saja cadangan energi nasional Indonesia berangsur-angsur kian menepis, sementara konsumsi energi terus bertambah dari tahun ke tahun. Lalu pemerintah terpaksa impor energi untuk menutup defisit energi dalam negeri, sehingga harga energi menjadi mahal, hingga muncul kekhawatiran suatu saat Indonesia akan mengalami krisis energi.  Terutama energi minyak dan gas bumi (migas) sebagai energi dari fosil yang tidak dapat diperbarui. Di mana fosil dari hewan-hewan purba yang mengendap di perut bumi, memerlukan  waktu ribuan bahkan jutaan tahun untuk bisa menjadi sumber energi.  

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas),  dalam satu dekade (10 tahun) terakhir, produksi minyak Indonesia semakin merosot, sedangkan konsumsi kian meningkat. Pada 2010, produksi minyak bumi pernah mencapai 945 ribu barel per hari. Namun per 2018, produksinya menurun mencapai 772 barel per hari. Sementara konsumsi meningkat menjadi 1,65 juta barel sehingga dibutuhkan tambahan pasokan 702 barel per hari untuk memenuhi kebutuhan minyak domestik.  

Adapun berdasarkan laporan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam Energy Outlook 2019, disebutkan produksi minyak bumi akan menurun sekitar 5 persen per tahun dari 292,4 juta barel pada 2017 menjadi 53,8 juta barel pada 2050 karena sumur yang sudah tua dan sumber daya yang terletak di daerah frontier.

Energi Baru Terbarukan

Untuk itu, pemerintah melalui kebijakan energi nasional (KEN) berkomitmen untuk memenuhi target bauran energi nasional sebesar 23% bersumber dari energi baru terbarukan (EBT) pada 2025.  Komitmen itu disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif saat menjadi pembicara dalam pertemuan virtual "International Energy Agency (IEA) Clean Energy Transitions Summit" pada Kamis, 9 Juli 2020. Dalam  ajang pertemuan global terbesar di bidang energi dan iklim itu diikuti lebih dari 40 menteri dari negara-negara yang mewakili 80% penggunaan dan emisi energi global.

"Untuk memenuhi permintaan energi, Indonesia telah menetapkan target 23% energi terbarukan dalam bauran energi pada 2025. Kebijakan ini, dikombinasikan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi hingga 29% pada 2030, merupakan jalan yang jelas menuju sistem energi yang lebih bersih," tegas Arifin.

Untuk mencapai target dan mendorong investasi energi terbarukan, menurut Arifin, Pemerintah Indonesia sedang mencari terobosan untuk mengurangi emisi dari pembangkit listrik tenaga batubara. Salah satunya dengan mekanisme co-firing biomassa pada pembangkit listrik batubara untuk mengurangi emisi dan meningkatkan peran energi terbarukan. 

"Kami juga berencana untuk menghentikan pembangkit listrik tenaga batubara tua dan menerapkan teknologi energi batubara ramah lingkungan," ungkap Arifin.

Pada kesempatan terpisah, Ekonom Institute for Development of Economics and Finanance (Indef), Ucok Pulungan mengatakan, energi alternatif lain juga perlu didorong, seperti penggunaan energi angin maupun air.

"Misalnya, pembangkit listrik tenaga bayu (angin) sebenarnya sudah dikembangkan di Sulawesi Selatan. Tinggal diperbanyak. Program energi alternatif lain sudah ada, karena itu jangan lagi menjadi wacana saja," tegas Ucok.

Tentu saja banyak lagi energi alternatif yang bisa dikembangkan menjadi energi baru terbarukan (EBT). Dilansir dari Wikipedia, sedikitnya ada delapan sumber energi baru terbarukan di Indonesia yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan, yakni: (1) Biofuel atau bahan kabar hayati adalah sumber energi terbarukan berupa bahan bakar baik padat, cair, dan gas yang dihasilkan dari bahan-bahan organik; (2) Biomassa, merupakan jenis energi terbarukan dari bahan biologis berupa organisme yang hidup atau belum lama mati; (3) Panas bumi atau geothermal adalah sumber energi terbarukan berupa energi thermal (panas) yang dihasilkan dan disimpan di dalam bumi; (4) Air, merupakan salah satu energi  alternatif paling umum dengan memanfaatkan energi potensial dan energi kinetik yang dimiliki air; (5) Angin atau bayu adalah sumber energi terbarukan yang dihasilkan oleh angin dengan menggunakan kincir angin untuk menangkap energi angin, kemudian diubah menjadi energi kinetik atau listrik; (6) Matahari atau surya adalah energi terbarukan yang bersumber dari radiasi sinar dan panas yang dipancarkan matahari; (7) Gelombang laut atau  ombak adalah energi terbarukan yang bersumber dari tekanan naik turunnya gelombang air laut; dan (8) Pasang surut air laut adalah energi terbarukan yang bersumber dari proses pasang surut air laut.  

Sayangnya, sumber-sumber energi tersebut belum banyak yang termanfaatkan di Indonesia. Kalaupun sebagian sudah dimanfaatkan, tapi belum secara optimal, sehingga masih terbuka lebar kesempatan untuk mengembangkan energi baru terbarukan (EBT). Sejauh ini baru energi air yang sudah banyak dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Adapun pembangkit listrik yang bersumber dari energi panas bumi, angin, dan matahari baru sedikit digunakan dengan kapasitas energi sangat kecil. Apalagi sumber energi yang berasal dari gelumbang laut dan pasang surut air laut, belum satu pun yang berhasil dikembangkan di Indonesia.

Memang, banyak kendala untuk mengembangkan EBT. Terutama masalah pembiayaan yang tinggi karena memerlukan teknologi terbaru yang canggih, tenaga ahli, dan penyediaan peralatan yang sebagian besar perlu didatangkan dari luar negeri.

Untuk itu, pemerintah perlu dukungan dari berbagai pihak dalam mengembangkan dan memanfaatkan EBT, dalam rangka mewujudkan ketahanan energi nasional untuk saat ini dan masa depan. Selain dukungan dari pihak swasta, masyarakat umum juga bisa ikut andil dalam berbagai bentuk partisipasi sesuai dengan kemampuan masing-masing. 

Terlebih di era digitalisasi saat ini, kalangan influencer atau lebih familier disebut content creator (konten kreator), bisa ikut berperan untuk memberikan sumbangsih kepada pemerintah dalam rangka mewujudkan ketahanan energi nasional. 

Influencer atau konten kreator adalah orang-orang yang punya followers atau audience cukup banyak di media sosial, seperti blogger, Youtuber, selebgram, Fesbooker, dan sebagainya. Para konten kreator ini memiliki pengaruh yang kuat terhadap followers mereka yang jumlahnya mencapai ribuan hingga jutaan. 

Mereka disukai dan dipercaya oleh followers atau audience mereka sehingga apa yang mereka sampaikan atau lakukan, bisa menginspirasi dan mempengaruhi para followers, termasuk ajakan persuasif untuk mendukung pemerintah dalam mewujudkan ketahanan energi. Beberapa hal yang bisa dilakukan para konten kreator antara lain:

Pertama, melakukan ajakan persuasif kepada followers atau audience untuk mengubah perilaku sehari-hari dari boros energi menjadi hemat energi. Misalnya, menghidupkan lampu dan peralatan elektronik hanya ketika digunakan, dan begitu tidak digunakan langsung dimatikan. Ini bisa mengurangi konsumsi listrik oleh masyarakat sehari-hari.

Kedua, melakukan ajakan persuasif untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda  empat. Misalnya, membiasakan aktivitas yang memerlukan transportasi jarak dekat cukup naik sepeda. Adapun untuk transportasi jarak jauh dibiasakan menggunakan transportasi umum/massal seperti bus atau kereta api. Ini bisa mengurangi konsumsi BBM oleh masyarakat sehari-hari.  

Ketiga, rajin mencari berbagai informasi terkini tentang pengembangan energi baru terbarukan dari berbagai negara maju atau negara lain, lalu disampaikan kepada followers atau audience melalui konten-konten kreatif mereka di media sosial seperti blog, Youtube, Instagram, Facebook, dan sebagainya. Hal ini akan menginspirasi warga masyarakat, terutama kalangan akademisi, bahkan netizen yang punya minat dan kemampuan untuk mencoba melakukan riset dan pengembangan lebih lanjut agar teknologi-teknologi terbaru di negara-negara maju  tersebut bisa juga dikembangkan dan diterapkan di Indonesia. 

Hasilnya, tentu saja tidak bisa langsung terlihat sekarang. Namun paling tidak, apa yang bisa kita lakukan ini adalah ikut andil mengimbau masyarakat agar menghemat penggunaan energi yang telah ada agar tidak cepat habis, dan mengupayakan pengembangan energi baru terbarukan sebagai energi alternatif pengganti energi fosil, karena lama-lama energi fosil pasti akan habis dan tidak dapat diperbarui lagi. Tujuan jangka panjang, tentu saja agar anak cucu kita kelak masih bisa turut memanfaatkan energi dalam kehidupan mereka sehari-hari. (Sarby)

Share This
Latest
Next Post

Professional trader and blogger. He's a simple man.

0 komentar: