Minggu, 25 Maret 2018

Wow, Produk Sapu Purbalingga Terbang hingga Jepang!



Foto: Dok Arbi Anugrah (Detikfinance)


HARGA sapu Hamana bervariasi antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per sapu!

Dengan cekatan para pengrajin sapu di Desa Kajongan, Kecamatan Bojongsari, Purbalingga memilah dan mengikat batang tanaman gandum untuk dijadikan kerajinan sapu. Sapu merek Hamada, satu dari beberapa jenis sapu lainnya yang dibuat pengrajin sudah menembus pasar ekspor hingga ke Jepang.

Kerajinan sapu Hamada yang terbuat dari batang gandum merupakan produk khas Desa Kajongan yang muncul sejak tahun 1969 bersama dengan jenis kerajinan sapu lainnya seperti sapu ijuk yang terbuat dari ijuk pohon aren, serta sapu glalah terbuat dari tanaman rumput.

Dari ketiga jenis sapu tersebut, saat ini baru sapu Hamada yang diekspor ke Jepang, sedangkan sapu jenis lainnya dijual di sekitar Purbalingga, Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Sumatera.

"Sapu yang diekspor Hamada, dari Desa Kajongan, pengiriman ekspor ke negara tujuan Jepang," kata Kasi Kesejahteraan Desa Kajongan, Makmur, seperti dilansir Detikfinance, Jumat (23/3/2018).



Dia mengungkapkan, untuk kebutuhan bahan bakunya, ada yang didapat dari sekitaran Purbalingga, seperti rumput glagah yang tumbuh liar di kawasan hutan, sedangkan batang tanaman gandum serta ijuk diperoleh dari luar daerah, seperti Demak, Tegal, Purwodadi, dan Semarang.

Sedangkan jumlah pengrajin sapu di desa Kajongan sendiri mencapai 37 pengrajin dengan jumlah pekerja untuk setiap pengrajin sekitar lima orang serta ada yang hingga mencapai puluhan orang, sesuai kapasitas produksinya.

"Ekspor sapu Hamada memang tidak dilakukan secara langsung oleh pengrajin, tapi dikirim ke Yogyakarta serta Bandung yang memiliki akses penjualan sapu Hamada ke Jepang. Pengrajin di sini sifatnya hanya buat, finishing di Yogyakarta," ujarnya.

Namun, meskipun begitu kerja sama tersebut telah mendorong roda perekonomian masyarakat desa setempat semakin berkembang, mengingat saat ini Desa Kajongan telah menjadi sentra kerajinan sapu di Kabupaten Purbalingga.

"Pengiriman sapu Hamada setiap sebulan sekali sekitar 1.000 -2000 sapu, karena buatnya agak sulit," ucapnya.

Untuk mendorong pengembangan usaha kerajinan sapu tersebut, Pemerintah Desa Karangreja akhirnya membangun kios sentra industri sapu Desa Kajongan di tepi Jalan Raya Bojongsari sekaligus untuk mempromosikan produk khas desa setempat.

Sementara menurut Sunarto, pengrajin sapu Hamada mengatakan jika dirinya sudah menggeluti kerajinan sapu Hamada sekitar 15 tahun. Dalam seminggu setidaknya dia bisa menghasilkan sekitar 800 sapu dengan dibantu lima pekerja, di mana setiap pekerja mampu membuat minimal 15 sapu Hamada setiap harinya.

"Sapu hasil produksi saya juga dikirim Jepang melalui pedagang besar dengan harga bervariasi antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per sapu," ujarnya.

Sedangkan menurut seorang pengrajin sapu Hamada lainnya, Ahmad Zaenuri mengatakan jika sapu Hamada mulai diproduksi sejak lama, bertepatan dengan banyaknya warga desa yang menanam tanaman gandum.

Hanya saja, sejak beberapa tahun terakhir tanaman gandum tersebut tidak lagi ditanam sehingga pengrajin sapu Hamada harus mendatangkannya bahan baku dari luar daerah, salah satunya dari Kabupaten Demak yang memang banyak petani setempat yang menanam tanaman gandum.

Tingginya permintaan sapu Hamada untuk pasar diekspor, saat ini dirinya tidak hanya memperkerjakan 20 orang warga desa setempat, tapi ada warga lain yang ikut membantu membuat sapu dengan cara dikerjakan di rumahnya masing-masing sehingga tidak mengganggu aktifitas lain di rumah mereka.

Setidaknya setiap pekerja bisa menghasilkan sekitar 13-14 sapu Hamada dengan berbagai ukuran serta kualitas yang sudah disesuaikan dengan standar kebutuhan ekspor.

"Kalau ditotal bisa sampai 50-an pekerja yang ikut membantu membuat sapu Hamada untuk memenuhi permintaan perusahaan di Yogyakarta atau Bandung yang akan mengeskpornya ke Jepang," ujarnya.

Sedangkan untuk harga jual sapu tersebut bervariasi sesuai ukuran serta kebutuhan bahan bakunya mulai dari Rp 50 ribu untuk pasar lokal hingga Rp 200 ribu untuk sapu yang sudah siap jual di pasar ekspor. (sb-18)

Sumber: Detikfinance.com




Jumat, 23 Maret 2018

Terungkap! Sosok Wanita dan Anak di Logo Sido Muncul Ternyata....


Foto: Dok Sidomuncul (Yukepo)

SEJAK berdiri pada 1951, Sido Muncul tidak pernah mengubah logonya!

Dari sekian banyak produsen jamu tradisional salah satu yang mampu bertahan hingga saat ini adalah Sido Muncul. Beberapa produk jamu legendaris telah diproduksi bahkan hingga mendunia.

Bagi masyarakat Indonesia, tentu sangat akrab dengan produk Sido Muncul. Bahkan tanpa melihat merek dengan hanya melihat logo sudah bisa tahu bahwa itu jamu Sido Muncul.

Sejak berdiri pada 1951, Sido Muncul tidak pernah mengubah logonya yang berwujud tumbukan jamu dengan foto sosok Ibu dan seorang anak balita. Siapakah mereka?

Ternyata anak balita itu adalah Irwan Hidayat yang kini menjadi Direktur Sido Muncul, sementara wanitanya adalah neneknya Ny Rakhmat Sulistyo yang tak lain adalah pendiri Sido Muncul.

Irwan bercerita, sejak kecil dia memang sangat dekat dengan neneknya. Dia sejak lahir sering sakit-sakitan memang diurus oleh neneknya.

"Saya dipelihara sama nenek saya sejak saya masih di Yogyakarta," kenang Irwan seperti dilansir DetikFinance, Jumat (23/3)/2018).


Pada 1949, Ny Rakhmat Sulistyo memutuskan untuk pindah ke Semarang lantaran adanya perang di Yogyakarta. Irwan pun ikut diboyongnya meski kedua orangtuanya masih menetap di Yogyakarta.

"Waktu di Semarang nenek saya mendirikan Sido Muncul pada tahun 1951," tambahnya.

Kala itu seperti menjadi keharusan untuk memasang foto pribadi di logo produk. Awalnya Ny Rakhmat Sulistyo memasang foto dengan suaminya, namun dia merasa terlihat aneh.

Akhirnya dia mencoba untuk foto dengan Irwan, cucu kesayangannya. Meskipun saat itu Ny Rakhmat memiliki 46 cucu dari 9 anaknya.

"Saat itu saya yang dipilih untuk dijadikan logo," ungkapnya.

Sampai akhirnya, kedua orangtua Irwan ikut pindah ke Semarang dan ikut berinvestasi di Sido Muncul dengan memegang saham 50%. Lalu pada 1970 ketika neneknya sudah berusia 73 memutuskan untuk memberikan perusahaannya ke orangtua Irwan.

"Nenek saya punya pertimbangan dia bilang ya sudah yang punya satu orang saja enggak usah banyak-banyak biar enggak ribut," tambahnya.

Sejak saat itu pula, Irwan ikut terjun membantu kembangkan Sido Muncul. Hingga saat ayahnya meninggal tanggung jawab perusahaan diserahkan kepada Irwan dan adik-adiknya meski kursi kepemimpinan diduduki oleh Ibunya. 

"Kemudian pada 18 Desember 2013 ketika Sido Muncul menjadi perusahaan publik saya adalah CEO pertamanya," tutup Irwan. (sb-18)

Sumber: Detikfinance.com




Selasa, 20 Maret 2018

Bos Sepatu Brodo Mulai Bisnis dari Tabungan Angpau Lebaran



Foto: Detikfinance

Yukka Harlanda (kiri)

SETELAH usaha berkembang, cari suntikan modal dari investor itu  mudah! 

Siapa sangka modal awal seorang Yukka Harlanda, founder Brodo, merek sepatu pria terkenal, hanya dikumpulkan dari tabungan yang dikumpulkan sejak SD. Bahkan, uang tabungan itu sebagian besar didapat dari uang angpau yang dia terima saat Lebaran.

"Sampai sekarang saya masih ingat, tiap Lebaran itu dapat THR. Ditabung di bank, dari SD sampai kuliah. Pas saya cek, kirain sudah Rp 100 juta, ternyata cuma Rp 3,5 juta," kata Yukka dalam acara d'preneur Entrepreneur Juara di Ice Palace, Lotte Shopping Avenue, Jakarta, seperti dilansir Detikfinance.

Akhirnya, dari uang sebesar Rp 3,5 juta tersebut dia pakai untuk modal membuat empat lusin sepatu. Seiring waktu berjalan, dia sukses membuat dan memasarkan sepatu dengan merek Brodo. Mulai dari duit tabungan, pinjam dari orang tua, keluarga hingga bisa meminjam ke bank.

"Karena kita start pas kuliah, jadi masih dapat passive income. Ada duit tambahan, kita pakai jajan, dan lain-lain. Tapi begitu lulus, kita butuh ekspansi, mulailah pinjam-pinjam duit, pinjam ke bank dan akhirnya lanjut terus," tutur Yukka.

Diburu  Investor
Setelah usaha sepatunya makin berkembang, Yukka mengaku perlu juga suntikan modal untuk meningkatkan produksi dan ekspansi usaha. 

''Tambahan modal bisa didapat dengan meminjam dari pihak tertentu hingga mencari investor yang tertarik dengan skema bisnis yang kita jalankan,'' katanya.
Namun ketika sukses sudah diraih, dia mengaku tidak sulit mencari suntikan modal. Bahkan, banyak investor yang justru memburu dirinya agar bisa ikut menanamkan modal pada bisnisnya. 



"Bagaimana cari investor, sebenarnya kita enggak pernah cari. Kadang kayak di-approach, percaya deh. Kita posisi enggak cari dan memang dana profit cukup untuk ekspansi," kata Yukka.

Saat butuh dana tambahan, kata Yukka, dia tak langsung mengungkapkan secara nyata. Pasalnya dengan demikian, calon investor semakin penasaran untuk menanamkan modalnya, terlebih lagi melihat merek bisnis yang sudah terkenal.
"Jangan bilang cari investor. Main psycological game. Supaya penasaran butuh investment, bilang enggak perlu dan mereka makin penasaran," tutur Yukka.

Dana yang didapatkan dari investor, lanjut Yukka, digunakan untuk menambah toko hingga menambah pegawai untuk mengembangkan bisnis Brodo. Namun, dia menekankan agar dana dari investor harus dimanfaatkan dengan baik, sehingga memberikan dampak yang luas bagi usaha.

Selain itu, jika ada dana cukup, menurut Yukka, tidak kalah penting adalah pengembangkan sumber daya manusia (SDM), seperti merekrut karyawan yang berpengalaman kerja untuk support tim kerja, untuk support pertumbuhan usaha. (sb-18)

Sumber : Detikfinance.com




Minggu, 18 Maret 2018

Pendiri Tesla, Elon Musk Buka Rahasia Suksesnya, Mau Tau?

Foto: AFP
Elon Musk

UNTUK  sukses perlu ada seseorang yang menginspirasi!


Elon Musk merupakan tokoh penting dalam perkembangan teknologi populer di Amerika Serikat (AS). Ia seorang pebisnis dan penemu. Pendiri SpaceX dan Tesla ini pun membagikan tips meraih sukses.

Dilansir Liputan6 dari CNBC, Minggu (18/3/2018),  pria yang saat ini berusia 47 tahun ini mengungkapkan, perlu ada yang menginspirasi seseorang untuk capai sukses dalam kehidupannya. Lantas, bagaimana Elon Musk memandang arti sebuah kesuksesan untuk dirinya?

"Saat kau bangun di pagi hari, kau pasti ingin dan berharap hari ini dan masa depan akan menjadi baik dan hebat. Ini tentang bagaimana kau percaya pada masa depan akan lebih baik dibanding masa lalu. Dan saya tak sabar dengan apa yang ada di luar sana dan menjadi bagian dari kesuksesan-kesuksesan tersebut," tutur dia.



Elon mengungkapkan, menemukan tujuan hidup dalam pekerjaan dan fokus pada hal-hal baik lebih berdampak baik pada perkembangan seseorang.

"Hidup bukan hanya mengatasi satu masalah saja. Tidak bisa kita berkata demikian. Harus ada hal yang menginspirasi Anda yang membuat Anda bahagia bangun di pagi hari dan menjadi bagian dari kebermanfaatan sesama," ujar dia.

Elon Musk menilai, tujuan hidup dapat membantu kebutuhan-kebutuhan era digital untuk bisa bertahan dan berkembang di kemudian hari. Selain itu dengan mempertahankan dan memelihara semangat positif menciptakan sesuatu.

"Hal yang membuatku semangat ialah saat aku berpikir tentang masa depan dan merasakan sensasi yang luar biasa karenanya. Hal ini yang dapat membantu kita untuk ciptakan masa depan sebaik mungkin, untuk menjadi inspirasi bagi yang lain, dan untuk terus positif melihat hari esok," ujar dia. (sb-18)

Sumber: Liputan6.com




Selasa, 13 Maret 2018

Jual Pakaian Olahraga, Rizki Kantongi Omzet Rp 350 Juta/Bulan



Foto: Dok Rizki Adventus (Detikfinance)

Rizki Adventus

SEJAK masih SMP, Rizki sudah mulai merintis bisnis!


Memulai bisnis sejak usia belia sudah dilakukan Rizki Adventus. Dia mengaku sejak masih duduk di bangku SMP pada 2010 silam, dia sudah memulai merintis usaha kaos atau yang akrab dikenal dengan sebutan jersey olahraga.

Rizki menceritakan kisah suksesnya sebagai pebisnis belia kepada Detikfinance, Rabu (14/2/2018) lalu. Menurut Rizki, berawal dari hobi bermain basket, dia menjajal usaha konveksi kaos olahraga. Sejalan dengan hobi basket, Rizki merintis usaha yang dikenal Motion Sport Indonesia.

"Hobi basket, jadi dari SMP main basket, cuma dulu kan posisi sekolah di swasta, tiap tahun bikin baju, saya posisi dari sisi ekonomi orang tua saya bukan nggak ada uang, tapi minta supaya mandiri. Dari situ berpikir gimana caranya bisa hasilkan uang," ungkap Rizki.

Di awal usahanya, Rizki memanfaatkan semua channel penjualan melalui online. Beberapa channel penjualan produk yang ia gunakan di awal usahanya, antara lain Blackberry, sosial media hingga website yang menyediakan forum jual beli.

Sekitar satu tahun berselang, pada 2011-2012, dia memutuskan membuat website yang khusus menampilkan produknya. Kehadiran website diharapkan bisa menjaring lebih banyak pesanan dari para konsumen.

"Akhirnya bikin website sekitar 2011-2012. Kalau punya website kan tandanya serius," kata Rizki.

Beberapa tantangan pun dihadapi Rizki dalam merintis usahanya. Mulai dari mengatur keuangan hingga hadirnya kompetitor yang menawarkan harga yang lebih murah. Tantangan tersebut tidak membuat semangatnya surut. Usahanya pun semakin dikenal banyak orang.



Produk buatannya, kini sudah banyak dipesan dari berbagai institusi seperti universitas hingga klub olahraga profesional menggunakan produk Motion Sport Indonesia. Untuk menjadi dikenal konsumen besar seperti itu, Rizki mencoba dengan menawarkan kerja sama pengadaan kostum olahraga. Dengan begitu, pesanan pun membanjiri Motion Sport Indonesia.

"Kita support dalam bentuk jersey teman-teman bisa lihat, dan nggak tahu kenapa mungkin dari tradisinya pakai Motion juara," ujar Rizki.

Pria yang hobi basket ini menambahkan, dia bisa memproduksi hingga 400 setelan kaos olahraga mulai dari basket, futsal, hingga voli. Dengan demikian, setiap bulannya tak kurang dari 1.600 setelan kaos olahraga yang diproduksinya.

Satu setelan kaos olahraga dijual mulai dari Rp 165 ribu hingga Rp 265 ribu untuk full printing. Dengan bantuan 18 karyawan, pesanan pun bisa selesai dan dikirim ke pelanggan dalam waktu yang sudah ditetapkan.

Rizki menambahkan, dia mampu mengantongi omzet hingga Rp 350 juta saat pesanan banyak. Kasus ini terjadi saat tahun ajaran baru di mana banyak kompetisi alias pertandingan olahraga.

"Kurang lebih di angka Rp 250 juta sampai Rp 300 juta. High season bisa sampai Rp 350 juta kaya bulan-bulan awal tahun masuk ajaran sekolah kan kompetisi antarsekolah banyak," kata Rizki.

Menurut dia, pesanan yang datang ke konveksinya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya di dalam negeri, produk buatan Rizki juga dipasarkan hingga ke luar negeri.


"Jakarta dan sekitarnya, tapi pesanan juga dari Sumatera, Kalimantan, Papua, dan hampir seluruh Indonesia. Dikirim ke luar negeri ada Perhimpunan Pelajar Indonesia sering order kalau ada kompetisi. Lalu PPI Australia, Singapura, Amerika pernah, ke Jerman juga pernah," katanya.  (sb-18)

Sumber: Detikfinance.com




Jumat, 23 Februari 2018

Nasi Uduk Diinovasi Jadi ''Kue Cantik'', Bikin Tania Raup Omzet Rp 100 Juta/Bulan



Foto: Detikfinance
Tania Jean Winarta

HANYA bisnis nasi uduk bisa mencapai omzet Rp 100 juta per Bulan!

Sukses yang dicetak perempuan pengusaha bernama Tania Jean Winarta ini memang terbilang spektakuler. Hanya jualan nasi uduk omzetnya bisa mencapai Rp 100 juta per bulan. Tapi, nasi uduk apa dulu? Nasi uduk bikinan Tania ini sudah diberi sentuhan modern menyerupai sebuah kue yang memiliki tampilan cantik.
9
Dalam menjalani usaha kuliner tradisional itu, Tania tidak sendiri. Perempuan yang akrab disapa Nia menjalaninya bersama kelima sahabatnya. Mereka sangat sadar bisnis, bahwa untuk meningkatkan daya tarik produk dari minat calon pembeli, diperlukan suatu inovasi baru. Tidak hanya menyajikan kue uduk tradisional apa adanya.  

Nia dan kawan-kawan pun akhirnya menemukan ide inovasi itu dengan mengemas produk kuliner nasi uduknya diinovasi menyerupai sebuah kue yang memiliki tampilan cantik. Usaha yang diberi nama Nasi Uduk Manja itu sangat diminati konsumen. Walau bisnis itu masih tergolong baru yakni sekitar satu tahun, Nia dan lima sahabatnya itu sudah bisa meraup omzet hingga sekitar Rp 100 juta per bulan.




Namun, jangan hanya melihat sukses yang telah diraihnya sekarang ya. Yang namanya usaha, tentu ada prosesnya hingga mencapai sukses. Ada yang harus melalui proses panjang bahkan jatuh bangun terlebih dulu, ada yang beruntung usahanya berkembang cepat dan berjalan lancar mirip jalan top. Kebetulan Nia dan kawan-kawan termasuk yang beruntung, menjalani bisnis kuliner tradisional baru satu tahun sudah mampu mencetak omzet ratusan juta. 


Kepada Detikfinance, beberapa waktu lalu Nia menceritakan kisah sukses bisnisnya. Menurut dia, usaha nasi uduknya dirintis sekitar Februari 2017. Namun, saat itu masih kurang laku karena dia hanya menjual nasi uduk biasa, tanpa inovasi.

"Awalnya kita buka foodcourt di daerah Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat, jualan nasi uduk biasa, lalu merambah ke nasi kotak. Cuma kan kalau begitu saingannya banyak. Yang pas kita foodcourt itu hasilnya kurang banget ya," kata Nia sebagaimana dilansir dari Detikfinance, Jumat (23/2/2018). 


Saat itu, modal awal yang dikumpulkan Nia bersama lima sahabatnya memang tak banyak, hanya sekitar Rp 7 juta yang juga digunakan untuk sewa tempat. Barulah setelah ide untuk mengembangkan nasi uduk menjadi berbentuk kue, modal tersebut ditambah lagi sebesar Rp 3 juta.


Nia mengungkapkan, ide untuk mengivovasi nasi uduk itu datang karena pikiran iseng sang sahabat. Bisa dibilang, awalnya hanya sekadar coba-coba untuk bisa memajukan usahanya, itu karena mereka memutuskan untuk menutup toko nasi uduknya karena hasilnya kurang positif.


"Saya sendiri hobi baking, nah lima orang ini bilang coba dong bikin kue dari nasi. Akhirnya aku iseng coba, akhirnya jadi kuenya. Karena kalau hanya nasi uduk biasa, walau promosi-promosi ke media sosial juga kayanya responsnya kurang bagus, mungkin karena saingannya banyak dan orang belum kenal," katanya.


Walaupun sudah memiliki inovasi yang unik, namun Nasi Uduk Manja tak serta-merta bisa menarik perhatian konsumen. Nia dan para sahabatnya itu pun mencoba memasarkan produknya dengan cara kekinian, yakni mengendorse-nya ke beberapa food blogger.





        Foto : Dok Kue Uduk Manja (Detikfinance)


Secara perlahan, produk Nasi Uduk Manja mulai dikenal. Dengan merogoh kocek mulai dari Rp 50 ribu-500ribu untuk endorse tersebut, produk Nia bisa menarik perhatian banyak konsumen.

"Kita waktu itu sudah mulai pinteran kan, dalam arti kita coba endorse food blogger. Dari situ kirim-kirim ke food blogger, jadi people lebih aware dan marketnya lebih kebuka," tutur Nia.


Karena mulai berkembang, Nia dan lima sahabatnya itu pun mempekerjakan dua orang pegawai untuk menjalankan usahanya. Sebab, mereka mulai sedikit keteteran karena banyaknya pesanan.


Nia dan lima sahabatnya itu menjual nasi uduk dengan harga kisaran Rp 150 ribu sampai lebih dari Rp 1 juta. Harga tersebut dihitung berdasarkan porsi yang diminta si konsumen dalam setiap pesanan.


"Kalau Rp 1 jutaan lebih itu kuenya bisa buat 40-50 orang. Jadi kuenya empat tingkat, atau lebar, isinya, menunya juga lebih banyak. Kasarnya dihitung porsinya. Jadi mau buat makan 50 orang, nanti kita hitung jatuhnya 1 juta lebih. Kalau untuk yang Rp 150 ribu buat berempat, ukuran terbesar tergantung pesanan customer," katanya.






Kini, Nia dan lima sahabatnya itu bisa melayani hingga delapan pesanan kue setiap harinya. Mereka juga saat ini tak membuka toko dalam menjalankan usahanya, Nia sekarang hanya memasarkannya lewat media sosial dan memiliki sebuah dapur untuk menyiapkan pesanan konsumen.


Mereka pun berencana untuk bisa mengembangkan sayap bisnis ke berbagai daerah dengan membuka dapur baru di beberapa wilayahdanmemasarkannyasecaraonline. Semua ituagarbisnisnya bisa berkembang jauh lebih maju.




       Foto : Dok Kue Uduk Manja (Detikfinance)

"Kita nggak mau buka tempat lagi, benar-benar lewat online. Yang mau itu ke luar kota, jadi misalnya buka dapur di Bandung, di Makassar kaya gitu, tapi bukan buka toko, hanya dapur saja. Itu yang diinginkan sekarang," ucapnya.

Nia pun mengaku senang dengan bisnisnya sekarang ini. Terlebih, usaha dan kerja kerasnya itu dijalankan bersama sahabat-sahabatnya dan memajukan kuliner tradisional.


"Hasilnya sekarang sih happy banget sih, soalnya yang kita lalui awal-awal sih menyedihkan ya, susahnya, dan lain-lain. Mungkin sekarang kan 2017 makanan-makanan itu kan sudah wow, sedangkan makanan tradisional udah kehilangan jaman. Jadi awal-awal pas kita usaha nasi uduk itu responsnya kurang. Tapi sekarang kita bisa dibilang bangga," tuturnya.


Bila Anda tertarik dengan Nasi Uduk Manja buatan Nia dan para sahabatnya, bisa mengunjungi akun instagram: nasiudukmanja. (sb-18)


Sumber: Detikfinance.com




Senin, 19 Februari 2018

Aisha Makin Sukses setelah Banting Setir ke Bisnis Herbal


Foto: Dokumen Pribadi Aisha (Detikfinace)



 Aisha Noor Fadhila Putri

PELUANG emas dalam bisnis sering datang tanpa direncanakan!

Hal itu membuktikan bahwa sebuah perencanaan bisnis sering tidak sejalan dengan keadaan. Pengalaman tersebut dirasakan dan dijalani oleh Aisha Noor Fadhila Putri, Owner dan Marketing Director Obat Herbal Apel.

Kepada Detikfinance, pada Senin 19 Februari 2018, Aisha menceritakan perjalanan bisnisnya. Aisha yang menempuh pendidikan Raffles Design Institute Singapore dan Gemological Institute of America, akhirnya malah memilih untuk terjun ke industri  farmasi herbal.  Kondisi bisnis keluarganya yang membuatnya memutuskan pada pilihan tersebut. Ternyata ayah Aisha yang awalnya menggeluti bisnis ini bersama keluarga, kemudian dilanjutkan saat ini oleh Aisha dan akhirnya sukses.

"Jadi setelah saya lulus kuliah design perhiasan, saya pulang ke Indonesia mau cari kerja sebagai jewelry designer tapi setelah beberapa interview kok rasanya kalau jadi designer saja rasanya kontribusinya sedikit banget. Terus ayah saya, mulai bisnis herbal lagi, setelah beberapa tahun off. Ini saya diajak untuk masuk herbal company ini, mulai lah saya cari- cari tahu tentang herbal, Subhanallah keren-keren banget fungsi-fungsi dari herbal ini," ungkap Aisha.

Aisha yang bersama ayahnya yang sudah sejak lama mendalami obat-obatan herbal mengembangkan pemasaran obat herbal. Sampai tahun lalu, pemasaran Obat Herbal Apel Tetes sudah sampai 15.000 botol per tahun dengan omzet per bulan mencapai Rp 300- 400 juta.  



Saat bercerita, Aisha mengungkapkan kekagumannya pada obat herbal berbagai jenis. Adapun tampilan obat herbal milik Aisha tampak modern dengan kemasan yang sangat  menarik.  Seperti Cuka Apel Moringa, yang dijual dengan harga Rp 290.000 dan memiliki khasiat menurunkan kadar gula darah, meningkatkan sekresi insulin dan memperbaiki kinerja pankreas.

Ada pula Cuka Apel Tetes yang dijual dengan harga Rp 198.000 dan memiliki manfaat untuk menurunkan asam urat dan kolesterol. Selain itu, ada Green Coffee yang dijual dengan harga Rp 198.000, memiliki kandungan chlorogenic acid yang bermanfaat untuk meluruhkan lemak sehingga menurunkan berat badan.

"Nah, kami juga senang banget kalau ada customer kirim respons mereka cocok dengan obat herbal, happiness mereka jadi happiness kami. Interest sama batu permata dan perhiasan jelas masih ada dan nggak bakal hilang. Kami juga fokus untuk inovasi dalam bentuk ramuan, ekstraksi, bahkan cara kerja. Sebentar lagi insyaallah akan keluar dua produk herbal lagi," paparnya.

Untuk produk yang akan di-launching, Aisha mengaku memiliki khasiat untuk mengontrol asam lambung dan membantu menjaga kesehatan dari kanker usus. Setelah ini Aisha akan fokus ke kesehatan penderita kanker atau yang mau mencegah kanker.

"Tahun ini kami akan meluaskan pasar di modern market, kami targetkan per bulan kisaran Rp 300 sampe 400 juta. Targetnya setelah masuk ritel akan ada 30.000 pcs yang terjual tahun ini. Untuk brand kami sendiri available di website kami www.apeltetes.com, instagram, tv shop di startup channel, dan agen-agen," jelas dia.

Perempuan berusia 25 tahun ini hanya akan memasarkan produk herbalnya di Indonesia. Dirinya dan tim menjelaskan akan fokus untuk membuat ekstraksi bahan herbal lainnya.

"Fokus dalam negeri dulu. Rencana ke depan jelas saya mau membesarkan herbal, perhiasan akan selalu ada. Knowledge untuk herbal masih belum begitu banyak orang mengerti, tapi orang-orang di tahun depan akan lebih aware tentang kesehatan dan especially obat herbal," tutur Aisha. (sb-18)

Sumber: Detikfinance.com