Jumat, 04 Mei 2018

Produksi Tas Serat Pandan, Natalia Raup Omzet Rp 180 Juta Per Bulan


Foto: Dok Inssoo (Detikfinance)

Natalia Indira

“Setinggi apapun pangkat yang dimiliki, Anda tetap seorang pegawai.  Sekecil apapun usaha yang Anda punya, Anda adalah bosnya” (Bob Sadino)

BARANGKALI terinspirasi oleh nasihat bijak pengusaha sukses dan nyentrik Bob Sadino, pada suatu saat Natalia Indira memutuskan resign (berhenti bekerja) di sebuah perusahaan swasta. Dia kemudian membuka usaha yang diberi nama Inssoo.

Rupanya itu bukan keputusan yang keliru, kini onset usahanya sudah mencapai ratusan juta per bulan. Coba seandainya Natalia sampai sekarang masih berkutat sebagai karyawan perusahaan swasta, berapa gajinya per bulan?  

Rumah usaha Inssoo yang didirikan Natalia, memproduk kerajinan tangan berupa tas tangan alias clutch. Uniknya, produk ini berbahan dasar serat pandan laut.



Kepada Detikfinance, Natalia bercerita, dia mulai terjun di dunia usaha sejak 2010 dengan menjual produk batik dan aksesoris kain. Usaha itu dilakoninya sambil kerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.

Pada 2014, dia terpaksa berhenti kerja lantaran menikah dan harus pindah ke Yogyakarta. Keputusannya itu dia ambil tanpa ragu, sebab dia yakin masih bisa menjalankan bisnisnya.
Natalia mulai menjajal membuat produk kerajinan tas tangan dengan bahan agel, mendong dan pandan laut. Modal yang dia keluarkan hanya Rp 500 ribu.

"Itu untuk membuat 12 pieces. Waktu itu aku ikut pameran di Solo, coba pasarin produk ini, ternyata tanggapannya bagus," kata Natalia.

Uang hasil jual 12 produk clutch itu kemudian dia gunakan lagi untuk memproduksi dua kali lebih banyak. Ternyata produknya kembali ludes.

Melihat peluang yang besar, akhirnya wanita kelahiran 1 Desember 1987 itu memutuskan untuk serius memproduksi kerajinan clutch dalam jumlah lebih besar. Saat itu untuk tim penjualan Inssoo ada delapan orang termasuk dia dan suaminya.

"Sebenarnya aku cuma follower tapi aku lihat masih ada pangsa pasar yang bisa aku ambil," tambahnya.

Dia mulai memasarkan produknya secara online melalui berbagai media, dari marketplace di situs e-commerce hingga media sosial seperti Instagram dan Facebook.

Penjualannya semakin besar ketika mulai masuk pemesanan untuk souvenir pernikahan. Ada pula pesanan suvenir untuk acara-acara instansi atau perusahaan.

Kini, Natalia mampu menjual sekitar 2.000-3.000 buah tas tangan dalam sebulan. Dengan harga jual di kisaran Rp 35 ribu - Rp 90 ribu omzet Inssoo saat ini sudah mencapai sekitar Rp 120 juta hingga Rp 180 juta per bulan.

Natalia pun yakin bisnisnya itu masih bisa terus berkembang meskipun banyak yang bilang produknya musiman.



"Orang yang enggak tahu itu bilang berarti kalau enggak nge-hits lagi penjualan turun tapi penjualan kita naik. Aku yakin karena orang di Indonesia itu banyak banget, lalu ini bisa buat souvenir pernikahan ataupun lembaga seperti Polri," tuturnya.

Dia juga terus melakukan inovasi terhadap produknya. Setiap bulan atau maksimal 3 bulan, Inssoo selalu mengeluarkan clutch dengan motif yang baru.

Natalia juga kini memadukan bahan lain seperti kain batik dan kulit untuk produk tas tangannya. Itu juga menjadi alasan untuk mengantisipasi kenaikan harga serat pandan yang menjadi bahan baku utamanya. Sebab sejak 2016 dia putuskan hanya untuk memakai serat pandan sebagai bahan bakunya.

Foto: Money



Tas-tas berbahan serat pandan laut produksi Inssoo

"Dulu waktu masih awal usaha pandan per kg Rp 7 ribu sekarang sudah hampir Rp 20 ribu. Makanya sekarang dompetnya kita kombinasikan dengan batik atau kulit sintetis, itu buat pangkas HPP-nya," terangnya.

Natalia juga kini sudah mempekerjakan sekitar 50 orang ibu-ibu di sekitarnya. Mulai dari pembentukan hingga proses finishing dilakukan ibu-ibu itu di rumahnya masing-masing.

"Aku mikir mereka ibu rumah tangga, punya anak, harus urus rumah. Jadi mereka masih bisa melakukan itu tapi bisa punya penghasilan," tambahnya.


Ke depan, Natalia ingin memiliki toko offline untuk Inssoo. Toko impiannya itu bukan hanya untuk menjual clutch tapi sebagai pusat oleh-oleh kerajinan tangan di Yogyakarta. (sb-18)

Sumber: Detikfinance.com



Selasa, 17 April 2018

Ini Lho, Perempuan Muda dan Cantik di Balik Sukses Canva!


Foto: Ticbeat 

Melanie Perkins

TAU Canva.com? Berkat Canva, pekerjaan membuat desain grafis menjadi mudah. Bahkan bisa dilakukan oleh orang-orang yang belum pernah belajar desain grafis secara khusus. Meski begitu, hasilnya bisa keren banget, tidak kalah dari karya desainer grafis professional!

Yes, Canva adalah program design online yang menyediakan berbagai tools atau alat editing untuk membuat berbagai desain grafis seperti poster, flyer, infografik, banner, card invitation, presentation, facebook cover, dan masih banyak lagi lainnya. Layanan Canva ada yang gratis, ada pula yang berbayar. 

Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Canva ternyata seorang perempuan masih muda dan cantik. Dia adalah Melanie Perkins. Penasaran ingin kenalan sama dia? Ayuk kita kenalan sama-sama….  



Pada usia 19 tahun ketika masih belajar untuk meraih gelar sarjana komunikasi, Melanie Perkins mengaku sangat frustrasi dengan waktu yang panjang untuk melakukan tugas desain grafis sederhana, seperti membuat brosur pemasaran.

"Saya pernah merasa frustrasi, menulis instruksi secara manual panjang untuk melakukan hal-hal yang paling sederhana. Rasanya gila bagi saya bahwa dibutuhkan 22 klik untuk mengekspor dokumen berkualitas tinggi," kata Perkins, seperti dilansir dari The Huffington Post Australia, Rabu (18/4/2018).

Saat itu Facebook sedang lepas landas merebut perhatian masyarakat dunia, dan Perkins melihat kemudahan yang membuat semua orang suka online dan menggunakan jaringan sosial tanpa instruksi apa pun.

"Alat-alat desain ini dikembangkan sebelum internet dan saya tahu bahwa di masa depan mereka tidak akan lagi memenuhi kebutuhan tenaga kerja, tetapi platform online yang dapat diakses dengan mudah," kata Perkins.

Dalam waktu 10 tahun kemudian tepatnya pada 2013, Perkins telah berhasil merealisasikan ide briliannya untuk alat online yang mudah digunakan membuat desain grafis, yakni Canva. 

Perusahaan start-up yang berbasis di Sydney, Australia ini berkembang sangat pesat, karena alat online untuk membuat desain grafis itu sangat membantu orang-orang awam di penjuru dunia, terutama bagi mereka  yang selama ini kesulitan membuat desain grafis. Kini, nilai ekonomi perusahaan Canva sudah mencapai 458 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 6,3 triliun dengan nilai kurs rupiah saat artikel ini ditulis, Rabu (18/4/2018), yakni Rp 13.776 per dolar AS. Luar biasa kan?

Banyak orang menyebut Canva berhasil meraih sukses “dalam semalam”. Meskipun sebenarnya, Perkins telah menggodok ide alat desain online ini selama 10 tahun lebih hingga lahirlah Canva. 

Dengan lebih dari 10 juta pengguna di 179 negara, Canva telah membuat orang dengan keahlian apa pun untuk membuat desain grafis yang menarik dan menjadi penunjang utama di semua industri karena kebutuhan desain komunikasi visual terus meningkat.

Kepada HuffPost Australia, Perkins dari kantornya di Sydney, bercerita tentang kesuksesan bisnisnya di bidang industry kreatif, mulai dari nol hingga menjadi perusahaan bernilai triliunan rupiah. 

"Waktu itu kami mengirimkan amplop dan buku-buku contoh ke banyak sekolah, keluarga kami membantu mengemasnya. Saya ingat ketika kami mendapat cek pertama sebesar $100,  itu adalah hal yang paling menarik,  karena itu berarti seseorang benar-benar ingin membayar untuk perangkat lunak yang kami kembangkan," kata Perkins.



Dalam waktu lima tahun kemudian Canva telah menjadi salah satu perusahaan start-up besar di Australia.

"Saya ingat ketika saya melakukan pertemuan pertama dengan Bill Tai (investor pertama Canva) di Perth dan saya sangat gugup. Saya ingat saat itu berpikir 'jika saya sampai ke pertemuan ini, maka saya akan memberi diri saya tanda centang'," kata Perkins.

Ya, pertemuan itulah yang membawa Perkins ke perjalanan pertama ke San Francisco, Amerika Serikat (AS), di mana dia diperkenalkan ke salah satu pendiri Google Maps, yakni Lars Rasmussen, yang nantinya akan berinvestasi dan menjadi instrumen penting dalam kesuksesan Canva.

"Lars adalah orang pertama yang kutemui dan dia telah menciptakan perusahaan yang mengubah dunia. Ini benar-benar mengejutkan buat saya, dia adalah orang yang baik dan benar-benar mengubah perspektif saya tentang apa yang saya yakini," ungkap Perkins.

Ketika disinggung mengenai penilaian banyak orang bahwa Canva berhasil meraih sukses “dalam semalam”, Perkins dengan tegas membantahnya. 

"Saya belum pernah bertemu start-up yang sukses dalam semalam," tukas dia.

Perkins pun mengungkapkan, Canva telah 10 tahun dalam pembuatan dengan banyak cobaan dan kesengsaraan, termasuk dua perjalanan ke Amerika yang salah satunya dalam kondisi kecemasan karena masa berlaku visa Perkins mendekati habis.

"Setelah kami benar-benar bertemu investor dan benar-benar mau berinvestasi, maka Canva kami diluncurkan pada 2013," ungkap Perkins.


Foto: Yourstory

Melanie Perkins

Sejak itu, mereka meluncurkan aplikasi iPhone dan membuat Canva tersedia dalam 11 bahasa di seluruh dunia termasuk Spanyol, Prancis, Jerman, Rusia, serta bahasa Indonesia dan Melayu.

"Sangat penting bahwa seluruh tim telah membeli visi kami dan apa yang kami coba capai sebagai sebuah perusahaan," kata Perkins. ‘’Bahkan ketika itu hanya Cliff (co-founder Canva)
dan saya di ruang tamu ibuku, kami akan mengadakan pertemuan antardepartemen tentang akun, pemasaran dan hibah pada dokumen yang bisa kami akses, dan itu tetap sama, meskipun sekarang kami memiliki lebih dari 120 staf yang ada di dokumen," ungkap Perkins. 

Setelah Anda membaca kisah sukses Perkins bersama Canva-nya, apakah Anda masih percaya ada usaha start-up yang bisa meraih sukses “dalam semalam” atau secara instan? (sb-18)

Referensi: HuffPost Australia





Senin, 09 April 2018

Akhirnya, Jack Ma Beberkan Rahasia Alibaba Kalahkan eBay



Foto:  Quartz

Jack Ma, Founder & Exsecutive Chairman Alibaba  Group 

JACK Ma, pengusaha sukses asal China ini telah banyak memberikan testimoni tentang kesuksesan bisnisnya, perusahaan e-commerce Alibaba yang dirintisnya dari nol hingga mampu mendunia. 

Jack Ma juga mengakui, membangun sebuah perusahaan dari nol, kemudian berkembang, dan berusaha  mempertahankannya di tengah persaingan bisnis yang kian keta, itu tidak mudah. Sebagai Founder & Exsecutive Chairman Alibaba Group, Jack Ma telah kenyang pengalaman jatuh bangun dari pengalamannya mendirikan dan mengembangkan Alibaba menjadi salah satu raksasa e-commerce dunia.

Dia memegang filosofi, selalu mempersiapkan diri menghadapi segala perubahan. Filosofi  mengantarkan Alibaba menangkis persaingan di negara asalnya, China, yang sempat didominasi oleh eBay.

“Ketika kita melihat sesuatu datang, kita harus siap menyambutnya. Saya percaya (bahwa) Anda harus memperbaiki atap rumah, bahkan ketika cuaca masih (cerah),” ujar Ma seperti pernah dia ungkapkan kepada CNBC.

Saat itu, eBay menjadi salah satu pendatang awal di pasar ketika bisnis e-commerce di China. i. Perusahaan asal Amerika Serikat (AS) ini masih berusia dini menjalankan platform online consumer-to-consumer (C2C) yang disebut EachNet. Platform ini membebankan biaya kepada para penggunanya untuk setiap transaksi.

Adapun Alibaba, pada saat itu masih fokus membantu perusahaan-perusahaan kecil dan menengah di China untuk berbisnis secara online.  “Ma telah menyadari bahwa eBay, cepat atau lambat, seiring dengan pertumbuhannya di China, akan mulai mengejar pelanggan Alibaba,” kata Porter Erisman, mantan wakil presiden Alibaba kepada CNBC.



Demi mengatasi ancaman potensial dari eBay, Ma menghimpun sekelompok kecil karyawan Alibaba dan menugaskan mereka untuk mengerjakan proyek rahasia, sebuah online marketplace yang dapat bersaing langsung dengan apa yang ditawarkan eBay.

Begitulah cara Alibaba membangun Taobao yang saat ini telah berkembang pesat menangani banyak transaksi setiap hari.

“Taobao membebaskan segala transaksi secara gratis selama tiga tahun pertama dan memberi tekanan pada model pembayaran per transaksi yang dilancarkan eBay. Reaksi EBay adalah ‘menerbitkan siaran pers dan mengatakan bahwa itu bukanlah sebuah model bisnis',” tutur Erisman.

Namun, seiring dengan terus mengalirnya pembeli dan penjual ke Taobao, Alibaba melihat prospek besar menghasilkan uang dari cara tersebut.

Hampir dua dekade sejak Jack Ma mendirikan Alibaba dari apartemennya di Hangzhou, perusahaan ini telah menjadi andalan di dunia teknologi dengan kepemilikan kapitalisasi pasar mencapai sekitar US$473 miliar.

Seperti halnya banyak pemula, Jack Ma juga pernah menghadapi serangkaian penolakan di awal karier bisnisnya.  Tapi menurut dia, pengalaman itu membantu menempanya sebagai seorang pengusaha. “Sebagai pengusaha, salah satu kualitas yang saya miliki adalah ketika ditolak oleh orang-orang, saya menjadi terbiasa dengan mereka,” kata Ma.

Pada akhirnya, peralihan dari bisnis yang baru lahir menjadi salah satu perusahaan China dengan nilai paling berharga bukanlah tanpa melalui pasang surut. Bahkan, Alibaba pada awalnya harus berjuang untuk meningkatkan pendanaan modal ventura.

Ditolak 30 Pemodal



Seorang investor baru-baru ini mengungkapkan bahwa dia telah menolak investasi awal ke Alibaba karena merasa tidak yakin dengan model business-to-business (B2B) mereka.
Sebelumnya, Jack Ma pernah mengatakan bahwa di masa-masa awalnya Alibaba telah ditolak oleh sekitar 30 pemodal ventura. Beruntung, perusahaan ini kemudian menemukan investor utama, yakni CEO SoftBank, Masayoshi Son.

Di tengah perjuangannya berbisnis di dunia online, datanglah periode kejatuhan industri dotcom. Jack Ma pun terpaksa memberhentikan sejumlah karyawannya di seluruh dunia. “Alibaba bergeser dari tahap perluasan yang optimistis ke fase penurunan yang agak menyedihkan,” kata Erisman.

“Itulah satu-satunya saat di mana saya melihatnya meragukan dirinya sendiri, saat dia harus memberhentikan orang-orang. Saya sejenak berpikir bahwa dia bahkan bertanya-tanya apakah perusahaan itu akan bertahan,” kenang Erisman.

Itulah saat dimana Ma memahami bahwa menjadi CEO sangat berbeda dari menjadi seorang guru bahasa Inggris. “Menjadi CEO berarti membuat keputusan sulit dan terkadang melakukan pengurangan agar perusahaan bisa bertahan,” lanjut Erisman.




Foto: MarketWatch

Amazon versus Alibaba

Jack Ma sudah memikirkan apa yang akan terjadi bagi masa depan Alibaba saat teknologi dan cara baru melakukan bisnis ditemukan.

“30 tahun ke depan, teknologi yang ada akan menantang banyak kesempatan kerja. Orang-orang sudah merasa tidak bahagia dengan banyaknya penggunaan mesin, kecerdasan buatan membunuh banyak pekerjaan,” kata Jack Ma.

Di sisi lain, menurut dia, teknologi baru juga akan membawa perbaikan dalam kehidupan masyarakat. Untuk mempersiapkan perubahan yang tak terelakkan, ketika teknologi seperti kecerdasan buatan dan mesin menjadi andalan, awal pekan ini Alibaba menyatakan akan menginvestasikan lebih dari 15 miliar dolar AS selama tiga tahun ke depan untuk penelitian dan pengembangan teknologi.

“Apa yang Alibaba ingin lakukan dalam 10-20 tahun ke depan adalah memungkinkan inovasi bisnis tradisional,” ungkap Jack Ma. 

Dan, dunia e-commerce terus bertumbuh, persaingan semakin tak terkendali.  Amazon (Amazon.com), perusahaan perdagangan elektronik multinasional yang berkantor pusat di Seattle, Washington, AS, adalah pengecer online terbesar di dunia saat ini. Di pasar, Alibaba terus bertempur dengan Amazon dan para pesaing lainnya. Ya, inilah bisnis! (sb-18)

Diadaptasi dari: Entrepreneur.bisnis.com




Sabtu, 07 April 2018

Bidik Generasi Milenial, Coworking Space Jadi Peluang Bisnis Baru



Foto: Dok Kolega (Detikfinance)


Generasi milenial bekerja dengan santai dan nyaman 

di sebuah coworking space di Jakarta. 


COWORKING space adalah solusi untuk perusahaan start-up (rintisan) yang belum memiliki banyak karyawan dan dana sewa ruang kantor masih terbatas!

Di waktu kecil banyak orang bercita-cita untuk menjadi pegawai kantoran yang bekerja di gedung tinggi, bertingkat nan mewah. Tapi kini ada istilah  ‘’ngantor nggak harus di kantor’’. Artinya, bekerja bisa di mana saja tak harus di gedung pencakar langit.

Namanya coworking space atau sebuah ruang bersama yang memungkinkan Anda bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa harus bergaya formal atau rapi ala orang kantoran. Coworking space ini banyak ditemui di Jakarta beberapa tahun yang lalu, sejak mulai maraknya usaha rintisan atau start up yang muncul.



Pendiri coworking space Kedasi, Ivan Podiman  menjelaskan, kini pekerja khususnya generasi milenial malas dan bosan untuk bekerja di kantor yang terkesan kaku.

"Milenial sekarang mulai malas kerja di kantor yang biasa, karena repot harus rapi ke kantor harus tukar kartu akses hingga jalan yang macet," kata Ivan seperti dilansir Detikfinance, Sabtu (7/4/2018).

Tentu saja, coworking space merupakan peluang usaha baru yang sangat menjanjikan bagi para pemilik modal.  Kedasi adalah coworking space pertama di Jakarta Barat. Kedasi 1 adalah coworking space berbentuk rumah yang disulap menjadi ruang kerja namun tetap nyaman. Ivan mengungkapkan, penyewa Kedasi bisa datang dengan gaya santai.

Penyewa Kedasi bisa menyewa ruangan mulai dari jenis private office berkapasitas empat  orang hingga 14 orang, yang akan mendapatkan fasilitas printer, telepon lokal, PC dengan LAN, dan listrik. Selain itu, juga ada free flow kopi dan air. Harga yang dibanderol untuk penyewaan mulai Rp 5 juta hingga Rp 14 juta per bulan.

Dia menjelaskan, coworking space menawarkan sejumlah kelebihan dibandingkan dengan kantor biasa, antara lain harga yang relatif lebih murah, jam buka yang fleksibel, hingga menawarkan jaringan atau networking dengan pengguna yang lain. Menurut dia, hal ini akan membuat potensi bisnis yang baru karena di coworking space akan bertemu dengan banyak orang.

Sementara itu, CEO Kolega, Rafi Rachmanzah mengungkapkan, coworking space adalah salah satu solusi untuk perusahaan rintisan yang belum memiliki pegawai banyak dan dana sewa ruang kantor yang masih terbatas.

"Jadi untuk bisnis baru zaman now, coworking space ini tempat yang tepat. Karena bisa mewakili generasi milenial lebih fleksibel daripada ruang kantor biasa," ujar dia.
Dia menjelaskan, saat ini perusahaan atau korporasi juga menjadi penyewa selain perorangan atau start-up. Hal ini karena coworking space dinilai memiliki suasana kerja yang lebih kekinian dan meningkatkan kreativitas.

Rafi mengungkapkan, dengan menyewa ruangan di coworking space, maka perusahaan bisa menghemat 20% dari biaya sewa kantor konvensional.

Harga sewa yang dibanderol variatif mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 5 juta per bulan. Sedangkan untuk penyewa pribadi harga Rp 50 ribu. Kolega menyediakan fasilitas ruangan yang nyaman, jaringan internet, air minum, kopi, colokan dan kue (jika ada acara tertentu).

Founder Conclave, Akbar Maulana Brojosaputro menjelaskan, saat ini bisnis yang digagas anak muda sangat berkembang pesat. Namun, anak muda biasanya membutuhkan ruang kerja yang tidak membosankan. Karena itu, coworking space hadir untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

"Coworking space itu memang menyasar generasi milenial, tapi bukan untuk yang fresh graduate, karena biasanya fresh graduate itu maunya kerja di kantor mewah kan. Ini milenial tapi sudah pernah bekerja dan mencari alternatif lain," ujar dia.



Akbar mengaku tidak khawatir jika dicap merebut pangsa pasar ruang sewa kantor konvensional. Pasalnya, sekarang pekerja-pekerja kreatif memiliki keinginan dan visi masing-masing dalam menyewa tempat kerja.

Menurut dia, pekerja kreatif tersebut membutuhkan tempat kerja yang fleksibel yang tidak bisa didapatkan di konvensional, mulai dari jangka waktu yang bisa lebih pendek dan biaya sewa yang lebih murah dari perkantoran biasa.

"Coworking space menawarkan waktu sewa murah, mulai harian yang puluhan dan ratusan ribu, bulanan hingga tahunan. Tapi harganya juga lebih murah daripada kantoran biasa. Jadi memang disesuaikan dengan kondisi masing-masing," ujar dia. (sb-18)


Sumber: Detikfinance.com





Senin, 02 April 2018

3 Orang Terkaya Indonesia Ini Dulunya Miskin Lho



Foto: Bisnis
ORANG-ORANG terkaya di Indonesia tak semua lahir dari keluarga berada. Ada juga yang memulai bisnis dari nol karena berasal dari keluarga miskin.  

Yes, dari jajaran 10 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes, beberapa lahir dari keluarga miskin. Mereka harus bekerja banting tulang hingga sukses dan menjadi orang kaya. Hal itu menunjukkan bahwa kaya itu bisa diraih dengan kerja keras dan sukses merupakan hak semua orang, bukan hanya mereka yang mendapat warisan kekayaan dari orang tua atau kakek-neneknya. 

1.  Eka Tjipta Widjaja

Foto: Wikipedia
Eka Tjipta Widjaja

Eka Tjipta Widjaja adalah imigran asal China ke Makassar, Sulawesi Selatan. Eka lahir dari keluarga miskin sehingga membuatnya harus bekerja sejak kecil. Eka pernah menjual biskuit saat ia masih belia. 

Selain itu, pria yang kini berusia 94 tahun ini, menurut Forbes,  juga pernah berjualan kopra. Kekayaannya kini mencapai US$ 9,1 miliar atau setara Rp 122 triliun. 

Eka sukses dengan konglomerasi bisnis lewat perusahaan yang didirikannya, Sinar Mas. Kini Sinar Mas punya banyak lini bisnis, mulai dari properti, bank, perkebunan, industri, telekomunikasi dan lainnya. 



2. Chairul Tanjung

Ilustrasi: Okezone
Chairul Tanjung

Chairul Tanjung adalah pemilik CT Corp, terlahir dari keluarga kelas bawah. Saat masa sekolah bakat bisnisnya mulai terlihat, misalnya menjadi panitia penyelenggara tour sekolah. Saat kuliah talenta bisnisnya makin berkembang, yakni sudah sukses berbisnis foto copy. Ia kemudian merambah ke bisnis alat praktik kedokteran saat di kampus. 

Bukti lain bahwa Chairul Tanjung tanjung dari keluarga miskin, Buku biografi inspiratifnya tentang kisah hidup dan kesuksesannya, dituangkan dalam buku ''Si Anak Singkong''.

Kini lewat perusahaannya, pria yang akrab disapa CT ini punya banyak lini bisnis. Mulai dari media, ritel, bank, properti dan lainnya. Kekayaan Chairul Tanjung mencapai US$ 3,6 miliar atau Rp 48,6 triliun.

3. Boenjamin Setiawan

Foto: Maxmanroe
Boenjamin Setiawan 

Boenjamin Setiawan adalah pendiri Kalbe Farma. Dia memulai usaha bisnis farmasi dari sebuah garasi mobil. "Itu perusahaan bekas garasi. Kalau mau memulai usaha dari garasi, ini dialami oleh pengusaha dunia lainnya, kenyataannya berhasil," kata Boenjamin.

Bisnis Kalbe Farma, menurut Boenjamin, diawali dengan membuat produk obat cacing. Dari keuntungan bisnis itu, ia putar lagi menjadi investasi dan seterusnya hingga besar seperti sekarang ini. Kekayaan Boenjamin mencapai US$ 3,65 miliar atau Rp 49 triliun.

Nah lho, jangan hanya lihat kehebatan mereka setelah sukses ya? Tengok juga bagaimana perjuangan mereka, pahit dan getirnya memulai usaha dari nol, tidak punya modal karena mereka dari keluarga miskin. 

Berkat kerja keras dan keuletan yang pantang menyerah, anak-anak dari keluarga miskin ini kini menjadi sosok-sosok orang terkaya yang kisah kesuksesannya sangat menginspirasi. (sb-18)

Diadaptasi dari: Detikfinance.com





Minggu, 01 April 2018

148 Kali Ditolak Investor, Minshew Akhirnya Temukan 2 Strategi Bikin Investor Tekuk Lutut


Foto: Wikipedia
Kathryn Minshew

APAKAH Anda sedang merintis usaha dan butuh suntikan modal dari investor untuk mengembangkan usaha? Belajarlah dari Kathryn Minshew, ternyata jurus untuk menaklukkan investor itu sangat sederhana!

Beberapa dari kita pasti pernah mengalami kegagalan. Mulai dari kegagalan dalam merintis karier, menjalani bisnis, dan target-target lain dalam hidup.

Namun, bagaimana jika seseorang sudah 148 kali gagal dapat dana dari investor tetapi tetap ngeyel, bangkit lagi dan terus mencoba melobi investor lain lagi agar berkenan mengucurkan dana segar? 

Dikutip dari Independent dan dilansir Liputan6, Sabtu (31/3/2018), salah satu pengusaha tekun dan pantang menyerah itu adalah Kathryn Minshew. Dia pendiri perusahaan rintisan bernama The Muse.

The Muse merupakan platform yang fokus pada bidang pencarian kerja dan jasa konsultan karier. Kathryn dan rekan bisnisnya saat ini sudah meraih pendapatan hampir  USD 30 juta atau sekitar Rp 413,03 miliar (asumsi kurs Rp 13.767 per dolar Amerika Serikat).


Setelah mengalami nasib buruk 148 kali kegagalan saat menghadapi investor dalam rangka mengajukan suntikan modal untuk bisnisnya, Minshew akhirnya menemukan dua strategi untuk membuat investor takluk atau tekuk lutut. Hebatnya, strateginya itu ternyata sangat sederhana, penasaran kan?:

1. Tentukan Waktu Rapat Pertama 

"Dulu saya meeting kapan pun jika investor ada waktu. Sekarang saya tidak melakukannya lagi. Saat ini saya selalu bilang; saya harus menyelesaikan urusan di rapat pertama saya pada tanggal ini (sebutkan tanggal). Izinkan saya tahu jika Anda bisa dan tidak bisa. Jika tidak bisa tidak apa-apa," tutur Minshew.

Dia menambahkan, faktanya beberapa dari investor ternyata menyesuaikan dengan waktu yang ditentukan. "Misal, beri rentang waktu beberapa hari mereka untuk menjawab. Jika ada yang bilang tidak bisa, biasanya sudah saya pastikan mereka tidak tertarik dengan perusahaan kita," katanya.

 2. Jangan Beberkan Siapa Anda

"Jika Anda memberitahu bahwa anda adalah seorang CEO, biasanya investor atau orang yang kita ajak meeting akan memberikan masukan yang positif karena mereka tidak ingin menyakitkan perasaan Anda," ujar Minshew.

"Namun jika Anda mengaku seorang konsultan atau semacamnya maka mereka akan berikan masukan yang lebih jujur," katanya.


Minshew mengungkapkan, hal tersebut penting untuk dilakukan sebagai upaya bagi perbaikan dan kemajuan perusahaannya The Muse hingga akhirnya meraup kesuksesan seperti sekarang. (sb-18)

Sumber: Liputan6.com